CINTA MENURUT AJARAN AGAMA
Dalam kehidupan manusia, cinta menampakkan diri dalam
berbagai bentuk. Kadang-kadang seseorang mencintai dirinya sendiri.
Kadang-kadang mencintai orang lain. Atau juga yang lebih penting cinta kepada
alla, rasulistri dan anaknya atau hartanya. Berbagai bentuk cinta ini bisa kita
dapatkan dalam kitab suci Al-Qur'an dan Hadist rasulullah.
Ø Cinta diri
Cinta diri erat kaitannya dengan dorongan menjaga
diri. Hendaknya cinta kita terhadap diri kita sendiri tidaklah terlalu berlebihan
dan melewati batas. Sepatutnya cinta pada diri sendiri ini diimbangi dengan
cinta pada orang lain dan cinta berbuat kebaikan terhadap sesama.
“Diantara
gejala yang menunjukkan kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri ialah
kecintaannya yang sangat terhadap harta, yang dapat merealisasikan semua
keinginannya dan memudahkan baginya segala sarana untuk mencapai kesenangan dan
kemewahan hidup.” (QS,al-Adiyat, 100:8)
Ø Cinta kepada sesama manusia
Agar kita dapat hidup dengan penuh keharmonisan dengan
manusia lainnya, dia harus membatasi cintanya pada diri sendiri dan egoismenya.
Hendaknya ia menyeimbangkan cintanya itu dengan cinta dan kasih sayang pada
orang-orang lain, bekerja sama dengan dan memberi bantuan kepada orang lain.
Orang yang
menunjukkan (sesama) kepada kebaikan, ia bagaikan mengerjakannya. [HR. Muslim]
Ø Cinta seksual
Cinta seksual ialah yang bekerja dalam melestarikan
kasih sayang, keserasian, dan kerjasama antara suami dan istri. la merupakan
faktor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga.
“Dan
diantara tanda-tanda kekuasanNya ialah Dia yang menciptakan untukmu istri-istri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung, dan merasa tentram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang berpikir.” (QS,Ar-Rum,
30:12)
Ø Cinta kebapakan
Mengingat bahwa antara ayah dengan anak-anaknya tidak
terjalin oleh ikatan-ikatan fisiologis seperti yang menghubungkan si ibu dengan
anak-anaknya, maka para ahli ilmu jiwa modem berpendapat bahwa dorongan
kebapakan bukanlah dorongan fisiologis scperti halnya dorongan keibuan,
melainkan dorongan psikis.
“…Dan Nuh
memanggil anaknya – sedang anak itu berada di trmpat yang jauh terpencil – :
“Hai ..anakku naiklah (kekapal) bersama kami dan janganlah kamu berada
bersama-sama orang-orang yang kafir.” (QS, Yusuf, 12:84)
Ø Cinta keibuan
Kasih sayang itu bersumber dari cinta
keibuan, yang paling asli dan yang terdapat pada diri seorang ibu terhadap
anaknya sendiri. Ibu dan anak terjalin suatu ikatan fisiologi. Seorang ibu akan
memelihara anaknya dengan hati-hati penuh dengan kasih sayang dan naluri alami
seorang ibu.
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah,
siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Beliau menjawab: “Ibumu.”
Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya
lagi; “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi;
“Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu.”
Ø Cinta kepada Allah
Puncak cinta manusia, yang paling tinggi dan spiritual
ialah cintanya kepada Allah. Tidak hanya dalam shalat, pujian, dan doanya
saja,tetapi juga dalam semua tindakan dan tingkah lakunya. Semua tingkah laku
dan tindakannya ditujukan kepada Allah.
“Katakanlah :
“Jika kamu (benar-benar)mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi
dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah maha pengampun lagi maha penyayang” (QS Ali Imran,
3:31)
Ø Cinta kepada Rasul
Cinta kepada rasul, yang diutus Allah sebagai rahmah
bagi seluruh alam semesta, menduduki peringkat ke dua setelah cinta kepada
Allah. Ini karena Rasul merupakan ideal sempurna bagi manusia baik dalam
tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lainnya.
“Dan taatlah kepada Rasul supaya kamu diberi rahmat.”
[An-Nuur: 56]
Comments
Post a Comment